Menu
Fathirahma Dayli

MENUNGGU JODOH TANPA KEHILANGAN BAHAGIA

By: Fathirrachma

Ada satu fase dalam hidup ketika pertanyaan tentang pernikahan mulai terasa lebih berat daripada sebelumnya. Bukan karena kita tidak ingin menikah, justru karena kita sangat menginginkannya. Ketika melihat satu per satu orang di sekitar mulai menikah, membangun rumah tangga, bahkan sudah memiliki anak, tanpa sadar kita mulai bertanya, “Kapan giliran saya?”

Pertanyaan itu sederhana, tetapi terkadang mampu membuat hati gelisah.

Sedih karena belum menikah sebenarnya adalah sesuatu yang wajar. Kita manusia, tentu memiliki harapan tentang kehidupan yang ingin dijalani. Kita ingin dicintai, memiliki seseorang untuk berbagi cerita, membangun rumah, dan berjalan bersama sampai tua. Keinginan untuk menikah bukan sesuatu yang harus disalahkan. Namun, ada hal yang perlu kita jaga: jangan sampai keinginan untuk menikah berubah menjadi alasan untuk menganggap bahwa hidup kita belum lengkap. Sebab hidup tidak berhenti hanya karena kita belum sampai pada pelaminan.

Kita tetap tumbuh. Tetap bekerja. Tetap memiliki keluarga. Tetap memiliki teman. Tetap memiliki orang-orang yang menyayangi kita. Kita masih bisa belajar, berkarya, bepergian, membantu orang lain, mengejar cita-cita, dan menikmati banyak hal sederhana yang sering kali luput kita syukuri.

Kadang kita terlalu fokus pada satu hal yang belum kita miliki, sampai lupa melihat begitu banyak hal yang sudah Allah berikan. Kita ingin menikah, lalu lupa bersyukur karena masih diberikan kesehatan.
Kita ingin memiliki pasangan hidup, lalu lupa bahwa kita masih memiliki orang tua dan keluarga yang menyayangi. Kita ingin segera membangun rumah tangga, lalu lupa bahwa hari ini kita masih memiliki kesempatan untuk menjalani hidup dengan bebas, belajar menjadi pribadi yang lebih baik, dan mempersiapkan diri.

"Menikah adalah bagian dari kebahagiaan, tetapi bukan satu-satunya sumber kebahagiaan"

Kita boleh berharap. Boleh berdoa. Boleh berusaha. Bahkan boleh merasa sedih ketika melihat orang lain telah lebih dulu sampai pada sesuatu yang kita impikan.Tetapi jangan menjadikan pernikahan sebagai ukuran keberhasilan hidup. Tidak menikah di usia tertentu bukan berarti gagal. Belum menemukan pasangan bukan berarti tidak layak dicintai. Belum sampai ke pelaminan bukan berarti hidup kita tertinggal. Setiap orang memiliki waktunya masing-masing.

Ada yang menikah lebih cepat. Ada yang membutuhkan waktu lebih panjang. Ada yang menemukan pasangan ketika masih muda, ada pula yang baru dipertemukan setelah melalui perjalanan yang panjang. Kita sering melihat hasil akhir perjalanan orang lain, tetapi tidak pernah benar-benar tahu proses yang mereka lalui. Karena itu, membandingkan waktu kita dengan waktu orang lain hanya akan membuat kita lupa bahwa hidup bukan perlombaan.

Yang lebih penting bukan siapa yang paling cepat menikah, tetapi bagaimana kita mempersiapkan diri untuk menjalani pernikahan ketika waktunya tiba. Sebab pernikahan bukan hanya tentang menemukan seseorang. Pernikahan juga tentang kesiapan untuk menjadi pasangan.Tentang belajar memahami, menerima, berkompromi, bertanggung jawab, menjaga komitmen, dan tetap memilih satu sama lain bahkan ketika kehidupan tidak selalu berjalan sesuai harapan.

Maka, selama menunggu, mungkin ada banyak hal yang bisa kita persiapkan.
Bukan hanya mempersiapkan pesta pernikahan, tetapi mempersiapkan diri menjadi manusia yang lebih matang. Bukan hanya mencari seseorang yang tepat, tetapi juga berusaha menjadi seseorang yang tepat untuk orang lain. Dan jika saat ini kita sudah memiliki seseorang yang menyayangi kita dan berusaha membuat kita bahagia, mungkin kita tidak perlu terus-menerus bertanya tentang kapan semuanya akan sampai pada tahap berikutnya. Yang perlu dilakukan adalah menjaga hubungan itu dengan baik, membicarakan arah yang ingin dituju, dan memastikan bahwa keduanya memiliki tujuan yang sama.

Karena hubungan yang sehat bukan hanya tentang siapa yang paling banyak memberi, tetapi juga tentang kejelasan ke mana hubungan itu akan dibawa. Pada akhirnya, kita boleh berharap pada pernikahan tanpa harus kehilangan kebahagiaan selama menunggunya. 
Boleh berdoa agar segera dipertemukan dengan jodoh tanpa harus merasa hidup sedang tertunda.
Boleh ingin memiliki seseorang untuk pulang, tetapi jangan lupa bahwa saat ini pun kita sudah memiliki banyak alasan untuk merasa bersyukur.

"Mungkin selama ini kita bukan kekurangan kebahagiaan."

Kita hanya terlalu sibuk menunggu satu kebahagiaan yang belum datang, sampai lupa menikmati kebahagiaan yang sudah ada. Jodoh adalah bagian dari takdir yang kita ikhtiarkan. Kita berusaha, berdoa, memperbaiki diri, dan menjaga apa yang sedang kita jalani. Selebihnya, ada bagian yang memang bukan berada dalam kendali kita.

Maka, jika hari ini belum menikah, tidak apa-apa.

Sedih sesekali, wajar.

Bertanya “kapan?”, manusiawi.
Tetapi jangan sampai pertanyaan itu membuat kita lupa menjalani kehidupan yang sedang Allah titipkan hari ini. Sebab mungkin, ketika nanti kita sampai pada pelaminan, kita akan melihat ke belakang dan menyadari bahwa masa menunggu itu ternyata bukan masa yang sia-sia. Itulah masa ketika kita belajar mencintai diri sendiri, mensyukuri kehidupan, mematangkan hati, dan memahami bahwa kebahagiaan tidak selalu harus menunggu seseorang datang.

Menikahlah ketika waktunya tiba. Tetapi sebelum itu, jangan lupa untuk tetap bahagia.

Karena hidup yang sedang kita jalani hari ini juga merupakan bagian dari perjalanan menuju kehidupan yang kita doakan. 🤍

By: Fathirrachma

Tidak ada komentar